Siti Halimah “Mbak Kalim”, Pengacara Muda Semarang yang Viral Usai Berkenalan dengan Hotman Paris

Semarang|SuaraBocahIndonesia.My.Id – Nama Siti Halimah, S.H. atau yang akrab disapa MBK Kalim belakangan menjadi sorotan publik, terutama di kalangan pegiat hukum dan masyarakat Jawa Tengah. Pengacara muda kelahiran Pati, 10 Juli 1995 ini mencuri perhatian setelah berkesempatan berkenalan dan mendapatkan bimbingan langsung dari pengacara kondang Hotman Paris Hutapea.

Perjalanan Panjang Menuju Profesi Advokat

Siti Halimah menempuh pendidikan Sarjana Hukum di Universitas Semarang (USM) dan lulus pada 28 Februari 2025. Tak lama setelah lulus, ia mencalonkan diri sebagai calon anggota DPRD Kota Semarang dari Partai Hanura untuk Daerah Pemilihan 2 nomor urut 3. Di saat yang bersamaan, ia juga menempuh Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) PERADI melalui kampusnya.

Meski belum berhasil lolos dalam pemilihan umum tahun 2024, semangatnya tak luntur. Ia kemudian melanjutkan perjuangan dengan magang di Kantor Pengacara Edi Purnomo, sekaligus menempuh dan lulus Ujian Profesi Advokat (UPA) pada tahun yang sama. Selanjutnya ia bergabung di kantor senior N. Tjahajono & Co (Ketua PERADI Bersatu Jawa Tengah), hingga resmi mengucapkan Sumpah Advokat di Pengadilan Tinggi Jawa Tengah pada September 2025. Kini, ia telah berprofesi sebagai advokat selama kurang lebih sembilan bulan.

Benteng Hukum Keluarga dari Latar Belakang Sederhana

Menjadi pengacara bukan sekadar profesi bagi Siti Halimah. Sebagai anak yatim yang kehilangan ayah sejak usia satu bulan, ia adalah anak pertama di keluarganya yang berhasil meraih gelar sarjana hingga menjadi advokat.

“Ini kebanggaan besar. Saya kini menjadi benteng pertahanan bagi keluarga, paham hak dan kewajiban, serta mampu membela mereka jika terjadi masalah. Semua pencapaian ini saya yakini sebagai kuasa Tuhan, karena dengan kemampuan manusia biasa dan kondisi sederhana, mungkin rasanya tidak mungkin sampai di titik ini”, ujarnya.

Perjalanan ini pun tak mudah. Selama dua tahun masa magang ia tidak menerima gaji, sehingga harus berjuang mencari nafkah sendiri sambil mendalami ilmu hukum yang luas, mulai dari penyusunan dokumen hingga praktik di pengadilan dan kepolisian.

READ  𝙆𝙚𝙥𝙖𝙡𝙖 𝘽𝙖𝙙𝙖𝙣 𝙂𝙞𝙯𝙞 𝙉𝙖𝙨𝙞𝙤𝙣𝙖𝙡 𝘿𝙖𝙙𝙖𝙣 𝙃𝙞𝙙𝙖𝙮𝙖𝙣𝙖 𝘿𝙞𝙘𝙤𝙥𝙤𝙩, 𝘿𝙞𝙣𝙞𝙡𝙖𝙞 𝙂𝙖𝙜𝙖𝙡 𝙈𝙚𝙢𝙞𝙢𝙥𝙞𝙣 𝙙𝙖𝙣 𝙇𝙚𝙢𝙖𝙝 𝙋𝙚𝙣𝙜𝙖𝙬𝙖𝙨𝙖𝙣

Pertemuan Tak Terduga di Sidang Kasus Sritex

Kisah berkenalan dengan Hotman Paris bermula dari unggahan media sosial pengacara senior itu yang mengundang mahasiswa dan praktisi hukum menyaksikan sidang kasus Sritex di Pengadilan Tipikor Semarang.

“Saat itu saya ada jadwal sidang kasus pidana LPSK di siang hari, jadi saya manfaatkan waktu pagi untuk hadir. Saya memberanikan diri bersama teman saya Liana untuk menyapa beliau. Alhamdulillah, beliau sangat ramah, bersedia berfoto, bahkan memberikan nomor telepon pribadinya”, kenang Siti Halimah.

Ia pun kembali menyempatkan hadir menyaksikan sidang yang berlangsung panjang dari pagi hingga malam, sekaligus berkenalan dengan keluarga dan pengurus Sritex yang menurutnya sangat solid.

Dapat Ilmu Langsung dan Kepercayaan Menangani Klien

Bukan sekadar popularitas, pertemuan itu membuka peluang besar bagi pengacara muda ini. Hotman Paris memberikan banyak petuah, bimbingan teknis hukum, hingga sikap profesionalitas. Bahkan, dua klien yang awalnya ingin berkonsultasi dengan beliau kini dipercayakan ditangani oleh Siti Halimah di bawah pengawasan timnya, salah satunya merupakan kasus berskala besar.

Terkait citra yang melekat pada Hotman Paris, Siti Halimah menegaskan itu hanyalah bagian dari branding profesional.

“Sosok aslinya sangat rendah hati dan tidak pelit ilmu. Saya pun tetap menjadi diri sendiri, sederhana dan ramah seperti dulu”, jelasnya.

Ia juga meluruskan syarat bergabung di kantor hukum Hotman Paris: minimal 2 tahun pengalaman beracara untuk pengacara muda, 5 tahun untuk senior, serta penguasaan hukum bisnis, keuangan internasional, dan litigasi yang mumpuni.

Cita-Cita ke Jakarta dan Kesibukan Beragam

Siti Halimah mengakui sangat bercita-cita bergabung dengan tim pengacara ibukota, namun memilih menyiapkan diri secara matang baik kemampuan, finansial, maupun manajemen waktu. Saat ini ia juga aktif di berbagai organisasi: staf administrasi DPD PERADI Jawa Tengah, Koordinator Dapil Pati dan Rembang DPD Partai Hanura Jateng, Staf Khusus KPPI Kota Semarang, serta penasihat hukum di DENKOPINDA Kota Semarang dan AWPI Kota Semarang.

Di sela kesibukan hukum dan organisasi, ia juga mengembangkan usaha mandiri mulai dari jasa buket, dekorasi, perencana acara, hingga kuliner tahu mercon dan seblak.

“Kesempatan mungkin tidak datang dua kali, namun kesiapan yang matang adalah kunci. Saya percaya tidak ada yang terlalu cepat atau terlambat, semuanya ada waktunya”, tutupnya.

(Budi Semawis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *