Khutbah Idul Adha, Dr. Zuhad, M.A: Teladan Pengorbanan Ibrahim
Semarang|SuaraBocahIndonesia.My.Id – Perumahan Puri Asri Perdana, Kelurahan Padangsari Kecamatan Banyumanik Kota Semarang, menjalankan sholat Induk Adha di lapangan Puri Asri Perdana dengan Tema TELADAN PENGORBANAN IBRAHIM, oleh Dr. Zuhad, M. A.
Teladan Pengorbanan Ibrahim
Salah satu kebenaran pokok dalam kehidupan adalah bahwa setiap keberhasilan senantiasa menuntut semangat pengorbanan. Semangat yang tinggi dan seluas-luasnya telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS.
Mengapa Nabi Ibrahim AS tega bertindak mengorbankan anaknya yang telah lama didambakan nya?
Korban harus disertai keikhlasan dan ketaqwaan, orang yang berkurban. (Firman Allah SWT, QS Al-Haji, 22-37) Sebab yang sampai kepada Allah bukan darah atau dagingnya, tetapi ketaqwaan pelakunya.
Hakikat Kurban
Hakikat Kurban yang dari bahasa Arab, Qurban artinya pendekatan, yaitu pendekatan kepada Tuhan. Dalam arti keagamaan, kata ini maknanya berarti segala aktifitas dan sarana yang dibenarkan untuk digunakan mendekatkan diri kepada Allah. Maka melaksanakan kurban adalah melakukan sesuatu yang mendekatkan diri kepada tujuan hidup kita. Sebab memang kita berasal dari Tuhan dan kembali padanya.

Berkurban sama halnya melihat jauh ke masadepan, tidak boleh terkecoh oleh masa kini yang sedang kita alami. Bahwa kita tabah dan sabar menanggung segala beban berat dalam hidup kita saat sekarang.
Sebab kita yakin bahwa dibelakang hari kita akan memperoleh hasil dari usaha, perjuangan, dan jerih payah kita. Suatu tujuan tercapai dan cita-cita terlaksana Al-Qur’an surat Al-Syah, 94. 5-8 menyatakan:
Ayat 5
Karena sesungguhnya sesudah itu ada kemudahan;
Ayat 6
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan;
Ayat 7
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain;
Ayat 8
Dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.
Sesungguhnya berkurban adalah konsekuensi taqwa kepada Allah. Sebab taqwa itu jika dijalankan dengan ketulusan dan kesungguhan akan membuat kita mampu melihat jauh kedepan, mampu menginsyafi akibat-akibat perbuatan saat ini dikemudian hari, kemudian menyongsong masa mendatang dengan penuh harapan.
Sifat Optimistis Kepada TUHAN
Apa sebabnya orang enggan berkurban dan berjerih payah, serta tidak menempuh kesulitan sementara, dan menunda kesenangan sesaat?
Memang biasanya orang ingin hidup egois, hidup untuk diri sendiri dan kesenangan sendiri. Akibatnya ketika ia menerima kesulitan, kesusahan, percobaan, dan persoalan, ia mengira bahwa hanya ia sendirilah yang sedang dirundung kemalangan itu. Justru jika diterima dengan sabar dan tabah, kesulitan adalah bumbu hidup.
Berusaha dengan sungguh-sungguh dan bekerja keras adalah hakekat hidup bermakna.
Sementara itu pengorbanan adalah tuntunan perjuangan yang tak terelakkan. Keduanya harus diiringi dengan sikap yang lapang dada, sabar, dan tahan menderita. Hanya pandangan hidup serupa itulah yang akan memberikan kenikmatan hakiki dan kebahagiaan sejati.

Itulah semangat pengorbanan IBRAHIM yang pasrah hendak mengorbankan anaknya, ISMAIL itukah pula semangat ISMAIL, yang pasrah menyerahkan dirinya untuk dikorbankan. Keduanya menjadi contoh bagi kita semua tentang bagaimana ketulusan berkurban serta melawan godaan hidup senang sesaat, karena hendak mencapai hidup bahagia abadi.
Itulah ruh yang terkandung dalam ajaran berkurban. Dengan semangat pengorbanan yang tinggi kita mendekatkan diri kepada Allah, dan dengan ridha-Nya kita akan mendapatkan kebahagiaan sejati dan abadi.
Marilah momentum ‘𝘐𝘥𝘶𝘭 𝘈𝘥𝘩𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘫𝘢𝘥𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘵𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘢𝘯𝘶𝘨𝘦𝘳𝘢𝘩 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘪𝘮𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘴𝘶𝘢𝘪 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘺𝘯𝘯𝘢𝘵𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘢𝘬𝘥𝘪𝘳-𝘕𝘺𝘢’.
(Budi Semawis)


